Phone: (0351) 452970

Email: sekretariat@pnm.ac.id

Prodi Teknologi Informasi Resmi Dibuka


Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi memberikan izin Pembukaan Program Studi Teknologi Informasi Program Diploma Tiga Pada Politeknik Negeri Madiun berdasarkan Keputusan Menristekdikti Nomor 386/KPT/I/2018 pada tanggal 04 Mei 2018. Program Studi Teknologi Informasi sudah mulai menerima mahasiswa untuk Tahun Akademik  2018/2019 dari seleksi jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi (UMPN) dan jalur Mandiri. Kuota dua kelas akan dibuka pada angkatan tahun pertama ini.

Urgensi Penyelenggaraan program Studi Teknologi Informasi

Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah merubah cara pandang serta cara kerja manusia di era globalisasi ini. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa teknologi ini telah mengakibatkan suatu revolusi baru di jaman modern, dengan kecepatan jauh melampaui fenomena pada revolusi?revolusi terdahulu. Sebuah dunia baru yang bernama “internet” menjadi bukti cepatnya industri telekomunikasi berkembang. Internet yang menjadi tempat untuk saling berinteraksi, berkoordinasi, dan berkolaborasinya antar pengguna lintas benua secara efektif dan sangat efisien secara perlahan dan pasti mulai “menggantikan” beragam aktivitas konvensional yang selama ini terjadi sehari?hari di dunia nyata. Beberapa negara telah memiliki strategi dan cetak biru (blue print) nya masing?masing untuk mengembangkan industri teknologi informasi dan komunikasinya agar dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan serta kemajuan masyarakatnya. Singapura misalnya, pemerintah mencoba membangun negaranya menjadi “The Intelligence Island” yang berfungsi sebagai penghubung negara?negara Asia dan negara?negara besar lainnya dalam hal transportasi, perdagangan, kesehatan, dan keuangan. Hal ini dicanangkan setelah melihat keberhasilan mereka menjadi pelabuhan udara transit terbaik di dunia. Sementara Malaysia telah berupaya menciptakan kota berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang pertama di dunia melalui mega proyek multimedia super corridor?nya di Putra Jaya. Juga India, yang selama ini dikenal sebagai salah satu negara miskin di dunia, telah menyulap Bangalore menjadi salah satu pusat inovasi TIK dunia yang kerap disandingkan dengan Silicon Valley di Palo Alto, Amerika Serikat.

Di Indonesia sendiri, tingkat pembangunan teknologi informasi dan komunikasi suatu wilayah, kesenjangan digital, serta potensi pengembangan TIK digambarkan dalam suatu ukuran standar bernama Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK). Melalui website resmi BPS Indonesia (www.bps.go.id), dijelaskan bahwa IP-TIK disusun oleh 11 indikator yang dikombinasikan menjadi suatu ukuran standar pembangunan TIK suatu wilayah. Semakin tinggi nilai indeks menunjukkan potensi dan progress pembangunan TIK suatu wilayah lebih optimum, sebaliknya, semakin rendah nilai indeks menunjukkan pembangunan TIK di suatu wilayah masih belum optimum. Dalam skala 1-10, IP-TIK Indonesia tahun 2016 sebesar 4,34, meningkat dibanding IPTIK tahun 2015 sebesar 3,88. Sedangkan bila dilihat dari 176 negara, posisi Indonesia mengalami peningkatan dari rangking 114 pada tahun 2015 menjadi 111 pada tahun 2016. Indonesia termasuk dalam 10 besar most dynamic country untuk kenaikan nilai IP-TIK dari 3,85 pada tahun 2015 menjadi 4,33 pada tahun 2016 (International Telecommunicaton Union, dalam Measuring Informaton Society Report 2017). 11 indikator IP-TIK disusun menjadi 3 subindeks penyusun IP-TIK, yaitu subindeks akses dan infrastruktur, subindeks penggunaan, dan subindeks keahlian. Nilai subindeks paling tinggi adalah subindeks keahlian sebesar 5,54, diikut subindeks akses dan infrastruktur sebesar 4,88 serta subindeks penggunaan sebesar 3,19. Untuk IP-TIK level provinsi, rata-rata mengalami peningkatan dari tahun 2015 ke tahun 2016. Provinsi dengan IP-TIK tertnggi pada tahun 2016 adalah DKI Jakarta, yaitu 7,41. Sedangkan provinsi dengan IP-TIK terendah adalah Papua, yaitu 2,41.

Terlebih lagi, melalui website Depkominfo RI (www.kominfo.go.id), disebutkan bahwa lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika. Dan dengan iklim seperti ini, pemerintah Indonesia memiliki peluang dan tantangan besar dalam melakukan penetrasi teknologi digital lebih dalam lagi untuk menumbuhkan banyak start-up (rintisan) baru yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sejalan dengan hal itu, Indonesia juga sudah mulai dilirik investor yang berminat berinvestasi di industri digital. Data dari Techlist seperti dikutip dari media teknologi Techinasia menyebutkan, pada kuartal pertama 2015, di Asia Tenggara ada 93 perusahaan start-up yang memperoleh pendanaan. Dari jumlah itu, 24 diantaranya merupakan start-up Indonesia. MatahariMall mendapat pendanaan terbesar dengan total investasi Rp 6,51 triliun.

Dari seluruh kenyataan ini memperlihatkan bagaimana strategisnya pengembangan dan pemanfaatan TIK oleh sebuah negara untuk kemajuannya di masa kini dan mendatang. Di Indonesia, terlihat belum mencapai IP-TIK yang ideal serta belum dilakukan penetrasi teknologi digital yang maksimal sehingga perlu adanya upaya untuk perhatian, pengembangan dan pemanfaatan TIK lebih lanjut.